
Jangan
menangis.... eomma menyayangimu. Hiduplah dengan baik, kau malaikatku. Teruslah
hidup. Dan...
Tersenyumlah..
0o0
Taemin
duduk dengan memeluk lututnya disudut ruangan. dirasakan sekujur tubuhnya
bergetar, ia takut, otaknya bahkan sampai kusut, taemin tak dapat berpikir, ia terlalu
kalut. Bayangan itu selalu saja berkelebat di otaknya. Bayangan ketika Appa
dengan tatapan kosong, mengangkat tongkat baseball itu dan seakan tanpa beban
mengarahkannya pada Eomma yang saat itu sedang mengandung calon dongsaengnya. Taemin
ingat betul, saat itu taemin hanyalah bocah kecil berumur 7 tahun yang tak
mengerti apapun, ia pun tak tahu apa masalah appa dan eomma saat itu, ya saat
itu...
Ingatan
kelam itu selalu menghantuinya, selalu membuatnya takut, bahkan kenangan itu
selalu mampu menariknya kembali, taemin seakan berada kembali pada masa itu dan
saat itu terjadi, taemin tak akan bisa mengendalikan dirinya, dan saat tak
terkontrol, semua akan gelap, dan taemin akan tak dapat mengingat apa yang
telah terjadi. Aku benci ini, aku benci
ketika aku tak mampu mengendalikan semuanya dan seakan kehilangan diriku.
“Arrgghhh!!!”.
Taemin menghantam keras lantai di bawahnya berkali-kali, entahlah, rasa kesal,
benci, sedih, takut dan kecewa menjadi satu dan berkecamuk dalam raganya.
Taemin terus berteriak bahkan meraung-raung layaknya orang kesetanan.
Kesendirian merusaknya, merusak otak, raga, bahkan jiwanya, ia lelah. Taemin
kini menangis pilu, seakan menyesali kehidupannya, ia merutuki dirinya yang
bersedia lahir ke dunia ini, Taemin kembali memeluk lututnya, dan hening....
hanya nafas teratur Taemin yang terdengar
0o0
Taemin
mengerjap dan mendapati dirinya masih dalam posisi semula, duduk dengan memeluk
lututnya, ketika ia melirik jam diatas nakas, menunjukkan pukul 5 sore, dan ia
rasakan tangannya nyeri sekali dan tak lupa, tangan-tangan lentik itu kini
sudah membiru. sialan, pasti kenangan
bodoh itu meracuni ku lagi.
“Aih,
jinjja, badanku serasa remuk. Berapa jam aku dalam posisi bodoh itu?”. Taemin
bangkit dari posisinya dan sungguh badannya terasa remuk, rasa sakit di
tangannya juga semakin membuatnya meringis tertahan, ah sudah tak apa, aku hanya perlu ke klinik. Taemin kemudian
berjalan ke arah kamar mandi lalu ia membersihkan diri. Seperti biasa, menarik
nafas, hembuskan, rapikan rambut blondenya dan tersenyum cerah seakan tak
terjadi apa-apa. Ya begitulah Taemin, ia menutup semuanya dengan senyumnya.
Senyum palsunya.
Ia
pejamkan mata, meresapi udara sore hari di tengah appartement sederhana ini,
mengumpulkan semua energi yang dia miliki untuk melanjutkan lagi harinya dan
menyemangati dirinya sendiri.
Kau masih hidup Taemin
Dan harus tetap hidup, simpan semua
luka, jalani hidupmu dan...
tersenyumlah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar