Selasa, 24 Mei 2016

ALTER EGO | PROLOG



Jangan menangis.... eomma menyayangimu. Hiduplah dengan baik, kau malaikatku. Teruslah hidup. Dan...
Tersenyumlah..

0o0

Taemin duduk dengan memeluk lututnya disudut ruangan. dirasakan sekujur tubuhnya bergetar, ia takut, otaknya bahkan sampai kusut, taemin tak dapat berpikir, ia terlalu kalut. Bayangan itu selalu saja berkelebat di otaknya. Bayangan ketika Appa dengan tatapan kosong, mengangkat tongkat baseball itu dan seakan tanpa beban mengarahkannya pada Eomma yang saat itu sedang mengandung calon dongsaengnya. Taemin ingat betul, saat itu taemin hanyalah bocah kecil berumur 7 tahun yang tak mengerti apapun, ia pun tak tahu apa masalah appa dan eomma saat itu, ya saat itu...
Ingatan kelam itu selalu menghantuinya, selalu membuatnya takut, bahkan kenangan itu selalu mampu menariknya kembali, taemin seakan berada kembali pada masa itu dan saat itu terjadi, taemin tak akan bisa mengendalikan dirinya, dan saat tak terkontrol, semua akan gelap, dan taemin akan tak dapat mengingat apa yang telah terjadi. Aku benci ini, aku benci ketika aku tak mampu mengendalikan semuanya dan seakan kehilangan diriku.


“Arrgghhh!!!”. Taemin menghantam keras lantai di bawahnya berkali-kali, entahlah, rasa kesal, benci, sedih, takut dan kecewa menjadi satu dan berkecamuk dalam raganya. Taemin terus berteriak bahkan meraung-raung layaknya orang kesetanan. Kesendirian merusaknya, merusak otak, raga, bahkan jiwanya, ia lelah. Taemin kini menangis pilu, seakan menyesali kehidupannya, ia merutuki dirinya yang bersedia lahir ke dunia ini, Taemin kembali memeluk lututnya, dan hening.... hanya nafas teratur Taemin yang terdengar

0o0

Taemin mengerjap dan mendapati dirinya masih dalam posisi semula, duduk dengan memeluk lututnya, ketika ia melirik jam diatas nakas, menunjukkan pukul 5 sore, dan ia rasakan tangannya nyeri sekali dan tak lupa, tangan-tangan lentik itu kini sudah membiru. sialan, pasti kenangan bodoh itu meracuni ku lagi.

“Aih, jinjja, badanku serasa remuk. Berapa jam aku dalam posisi bodoh itu?”. Taemin bangkit dari posisinya dan sungguh badannya terasa remuk, rasa sakit di tangannya juga semakin membuatnya meringis tertahan, ah sudah tak apa, aku hanya perlu ke klinik. Taemin kemudian berjalan ke arah kamar mandi lalu ia membersihkan diri. Seperti biasa, menarik nafas, hembuskan, rapikan rambut blondenya dan tersenyum cerah seakan tak terjadi apa-apa. Ya begitulah Taemin, ia menutup semuanya dengan senyumnya. Senyum palsunya.
Ia pejamkan mata, meresapi udara sore hari di tengah appartement sederhana ini, mengumpulkan semua energi yang dia miliki untuk melanjutkan lagi harinya dan menyemangati dirinya sendiri.

Kau masih hidup Taemin
Dan harus tetap hidup, simpan semua luka, jalani hidupmu dan... tersenyumlah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar